Pasukan Sesat! ;p

Wednesday, January 28, 2009

"Satu Telunjuk untuk Menjawab Banyak Pertanyaan"

By: Indra Herlambang (www.freemagz.com)

Beberapa hari lalu saya makan di sebuah restoran. Tempat makan menyenangkan itu memang selalu menjadi tujuan saya ketika ingin menikmati ikan mentah dan kedelai rebus.

Saat sudah duduk dan sibuk melihat-lihat menu yang ditawarkan, seorang waitress cantik datang menghampiri saya. Setelah mengangguk sopan dan merapihkan meja, dengan malu-malu ia bertanya; “Mas, kenapa sih kalau makan di sini selalu sendiri?”

Saya terdiam cukup lama, sebelum akhirnya menjawab dengan bodohnya; “Kan abis nge-gym.”

Terlepas dari jawaban nggak nyambung yang justru membuat saya tampak semakin sinting di matanya, pertanyaan kecil ini sempat menampar saya dengan sebuah kenyataan yang menyebalkan: ternyata bagi banyak orang kesendirian adalah sebentuk keanehan.

Kejadian yang sama berulang ketika saya memesan tiket nonton di sebuah bioskop. Saat saya mengacungkan satu telunjuk untuk menjawab berapa buah tiket yang saya beli, penjaga loket tampat mengernyitkan mata sejenak sambil menatap saya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Satu aja, Mas?”

Saya hanya bisa mengangguk sambil tersenyum, walaupun dalam hati sumpah serapah mulai bergema beruntun. “Sejak kapan ada peraturan nonton harus bawa teman? Emang kenapa kalau saya nonton sendirian! Ada yang salah?”

Masalah kesendirian ini mencapai titik puncaknya saat saya memutuskan untuk berlibur di Bali... sendirian.

Dengan semangat memanjakan diri, saya memilih sebuah tempat penginapan indah yang terletak agak jauh dari pusat keramaian pulau Bali. Di mana suasanaya masih cukup sepi dan pantai pasirnya belum terlalu carut-marut karena diperkosa ratusan pasang kaki. Di mana semburat jingga langit senja masih dapat saya nikmati tanpa diganggu percakapan yang seringkali meniadakan semua arti. Di mana kesendirian saya bisa benar-benar saya nikmati.

Ketika berita itu sampai di telinga beberapa orang teman, mereka langsung menginterogasi saya dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang membingungkan. Salah satu percakapan itu berlangsung kurang lebih seperti ini:

“Sama siapa lo di situ?”

“Sendiri.”

“Bohong. Nggak mungkin lo nginep di situ sendirian.”

“Beneran gue sendirian.”


Percakapan ini saya akhiri seketika saat teman sinting itu bertanya dengan nada penuh selidik;

“Siapa yang bayarin?”

Ya Tuhan... Senista itukah menikmati kesendirian hingga harus ada orang lain yang menanggung biayanya? Seaneh itukah menghabiskan uang sendiri untuk menikmati diri sendiri? Ada apa dengan manusia dan kesendirian?

Buat banyak orang, kegiatan seperti nonton, atau makan di restoran, atau menginap di hotel

menyenangkan, adalah hal-hal yang harus dilakukan bersama kehadiran orang lain. Bahkan ada satu hal yang disarankan oleh sebuah majalah untuk tidak pernah dilakukan sendirian; membeli kacamata (menurut artikel itu kita butuh saran dan pendapat orang lain untuk memilih bingkai yang paling tepat buat disangkutkan di muka... duh, setidakpenting itukah pendapat pribadi kita sampai harus dibantu orang lain?). Deretan aktifitas itu akan semakin bertambah panjang dengan rentetan hal lain seperti belanja, tidur, olah raga, kerja, main, atau dalam rangkuman satu kata yang lebih dahsyat: hidup.


Oke-lah, tidak ada orang yang mau selamanya hidup sendirian. Saya juga nggak mau. Kalau harus memilih cerita film sebagai kisah kehidupan, pasti tidak banyak yang ingin menjadi tokoh utama dalam ‘Cast Away’ atau ‘I Am Legend’. Mahluk sosial macam kita memang butuh manusia lain. Tapi itu bukan alasan untuk asing dan mati-matian menghindari kesendirian, kan? Itu juga bukan alasan untuk semena-mena membebani kata ‘sendiri’ dengan terlalu banyak ketakutan. Lagipula apa yang harus ditakutkan? Jangan-jangan kita takut pada diri kita sendiri.

Bagaimana jika ternyata selama ini kita kelimpungan mencari teman dalam melewati setiap fase kehidupan karena tidak nyaman dengan diri sendiri? Bagaimana kalau diri kita terlalu membosankan untuk dinikmati sendiri? Bagaimana jika ternyata ketakutan terbesar kita untuk menikmati kesendirian adalah kemungkinan timbulnya kesadaran bahwa diri kita adalah mahluk asing yang baru bisa menyenangkan ketika dilengkapi dengan kehadiran orang lain?

Duh, menyedihkan sekali. Sudah terlalu banyak orang yang merasa mendapat arti ketika ada kehadiran manusia lain di sisi. Merasa diri seolah cacat tanpa kehadiran sosok tercinta yang hadir untuk melengkapi. Saya pernah ada di tempat itu. Sebuah tempat indah yang memabukkan. Sebuah masa cerah yang membahagiakan. Sampai tiba saatnya ketika ruang itu harus melompong kosong karena pemiliknya memutuskan untuk pergi. Lalu diri berubah seolah manusia berkaki satu yang kehilangan tongkat. Sulit bertahan hidup dan berjalan lamban tersendat-sendat.

Bodoh sekali saya ini (dan akan lebih bodoh lagi kalau saya mengulang kesalahan yang sama di lain hari). Sekarang saya tidak sedang mencoba untuk menghibur diri atau memberikan pembenaran tolol atas kejombloan saya. Hanya memberi jawaban agak panjang atas pertanyaan dari mbak-mbak di restoran, di loket bioskop, atau dari teman-teman yang matanya seringkali terbelalak aneh setiap kali melihat saya sendirian. Saya cinta keluarga saya, saya cinta sahabat dan teman-teman saya.

Tapi saya juga cinta diri saya.

Karenanya menikmati waktu dengan diri sendiri. Berteman dengan diri sendiri. Berdialog panjang dengan diri sendiri. Buat saya bukan merupakan pilihan, tapi keharusan.

Apalagi sebenarnya di ujung hidup ini ada kematian.

Sesuatu yang harus benar-benar dijalani sendirian.

Tanpa teman.

------------------------------

NB: IDEM abis dah, 'kisah' Ellen Su dengan Indra Herlambang!! Tossss!! hehehe

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...